Hujan Oktober

Hujan di bulan Oktober yang menjemputmu pulang adalah gadis bagai pelangi yang berlari-lari kecil menggandeng tanganmu dengan senyum riang. Namun saat kau menganggap setiap larik warnanya tak jua mampu terlihat indah dalam pijar matamu, gadis pelangi itu sontak menjadi barisan mendung yang kelabu.

Acap kali aku ingin mengabadikanmu dalam keleidoskop akhir tahun dengan pekat senja kelabu selegam kopi yang luruh lalu membasuh lara kehilangan, seperti lelaki bisu yang sabar menunggu sembari menyulam benang rindu yang bergulung-gulung.

Namun katamu kini gaduh geliat rindumu telah lama moksa secara tiba-tiba, seperti lembayung senja yang singgah sebentar di beranda, lalu pergi dalam sunyi.

Lantas riuh bisik angin yang menyapu telinga, membawa serangkaian teka-teki dan tanya tanpa jawaban tentang definisi pulang atau serangkaian percakapan usang tentang ikrar janji yang tercatat dalam noktah lampau.

Kini senja yang mengawang pada kelabu semesta Oktober tanpa merah saganya seperti bercerita tentang sebuah kehilangan yang pedih dan jejak-jejak perih yang tertinggal di sepanjang bentang sawang.

Tinggallah aku termangu pada puncak tertinggi titik bianglala, terbakar habis oleh segenap rasa hingga meninggalkan sepenggal lara yang mengendap pada jantung persegi, menjadikan gigil tubuh ini memeluk sendiri nestapa sembari menghela nafas yang tersenggal dengan rindu yang menikam, menyaksikan serangkaian asa yang kutitipkan pada mendung senjakala itu luruh bersama rinai hujan juga pilu yang bermuara di pipi hingga ke dagu.

Namun gadis pelangi itu tetap ada jika kamu sadar(?) Pada tengah Oktober hari ini. Membawa kertas tertulis -Selamat Ulang Tahun-


17 Oktober 2024

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjudian

My Mom

Apakah?