Kanker

Hari itu aku dijemput pukul 15.00. Panas sekali, magh ku kambuh lagi "Belum makan ya pasti?" tanyanya pas di motor. Aku diam tak menjawab, sibuk meremas-remas perut "Yauda nanti kita beli roti dulu".

Sampai di tempat, sampai pukul 20.00, selama 4 sampai 5 jam kami tidak banyak bicara. Dia tidak terlalu berisik, lebih banyak tersenyum. "Mau ikut ke rumah sakit sebentar ngga?"

"Jenguk Bapak?"
"Iya, mau anter kaus kaki" Jawabnya
"Boleh, yuk!"

Dia membantuku melepas helm, agak susah memang. Menuntunku masuk, menuju lantai 5, ruangan yang hampir pojok itu sepi sekali. Sebelum masuk pintu, ada seorang pria tua membawa infusnya sendiri, sepertinya sedang mencari suster, darahnya naik ke atas. Rasanya ingin aku bantu mencari suster, tapi sepertinya Pria tua itu tidak butuh bantuan. Pikirku, mungkin sudah terbiasa hal itu terjadi di rumah sakit.

Masuk ke dalam, aku menatap, lalu mengalihkan pandangan. Tak kuat melihat dalam-dalam. Suasananya makin tegang, tubuhku berusaha menjaga kestabilannya. Aku tidak suka atsmosfer pada saat itu.

Bertemu Ibunya, kami pamitan, lalu kembali turun, keluar rumah sakit. Kali ini, aku yang banyak diam. "Kenapa diem, tadi bawel banget." Aku tetap lanjut diam "Nanti juga sembuh." Ada senyuman di ujung kalimatnya.

Teringat pada buku favorite ku dari Tere Liye 'Bapak, Apakah sabar memiliki batasan? Aku tahu jawabannya sekarang. Ketika kebencian, dendam kesumat sebesar apa pun akan luruh oleh rasa sabar. Gunung-gunung akan rata, lautan akan kering, tidak ada yang mampu mengalahkan rasa sabar. Selemah apa pun fisik seseorang, semiskin apa pun dia, sekali di hatinya punya rasa sabar, dunia tidak bisa menyakitinya. Tidak bisa.'

Tak pernah aku bertemu karakter seindah ini sebelumnya. Jujur saja aku merasa malu pada saat itu, dan banyak belajar pada sekali waktu pertemuan.

"Mau makan nasi goreng ga?"
"Mau, mau-mau" Ucapku excited.

Hidangan sampai, ada telpon masuk dari handphonenya "Angkat aja, takutnya penting." Ketika diangkat, hatiku terhenyut, ternyata, wanita lain.

Air mataku jatuh tanpa aba-aba. Satu hal yang selalu aku ingat "Orang yang menyakitimu, dia lebih tersakiti. Maka, kasihanilah dia."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjudian

My Mom

Apakah?