Dia
Cantik sekali dia, kekasihmu yang dulu. Senyumnya sangat manis, hingga akupun ikut tersenyum. Ada perbedaan, tapi, dalam senyuman kami: sepertinya ia terseyum bahagia, sedangkan aku tidak terlalu.
Setiap kumelihatnya, yang kulihat adalah segala yang kuirikan, yang kuinginkan—bentuk matanya yang indah dan besar, netranya yang bersinar, kulitnya yang bersih, tubuhnya yang kecil, parasnya yang cantik, sangat amat cantik. Lalu kulihat diriku sendiri dalam cermin, dan aku hanya bisa membenci sosok yang berada di depanku—rambutnya berantakan tidak karuan, warna kulitnya kurang rata, sinar dalam matanya juga telah pudar, dan perutnya sedikit menonjol.
Dan kadang aku bertanya-tanya: bagaimana bisa kau mencintaiku setelah perempuan sepertinya? Betul-betul, aku merasa kurang pantas.
Dan sepertinya, akan selalu kubandingkan diriku dengannya, dan perempuan-perempuan cantik lainnya. Entah kapan aku bisa menerima diriku sendiri apa adanya, dan mengerti mengapa kau bisa mencintaiku juga.
2018
Komentar