Sidang
Tuhan, benarkah langit menceritakan kemuliaan - Mu?
Kalau begitu hukumnya, mengapa ia menghisap keringatku. Juga darah dan air mata.
Tuhan, jika semua awan memberi nyaman, lalu bagaimana kami masih saja suka mengeluh dan menangis?
Hari ini aku ingin berbagi cerita dengan puisiku. Ia meludahi kertasku, kemudian mengusapnya dengan pena. Kami bergantian saling mengusap.
Aku setengah berlari menuju ruangan, membuka pintu, semuanya sudah berkumpul. Aku mengenakan kemeja putih, blazer hitam, rok hitam dan aku membuat diriku terlihat berbeda dari yang lain dengan memakai kerudung warna putih.
"Oke, boleh langsung aja dimulai aja ya" Hatiku berdegup kencang, aku berusaha mengatur napasku agar tidak menganggu intonasi bicaraku.
"Selamat yaa, akhirnya sidang akhir kamu selesai juga, aku ikut bahagia" Sidang akhir ini memang benar-benar menguras energi, tapi aku sangat bahagia. "Makasi ya udah nyempetin hadir"
Ternyata perjuanganku tidak sia-sia. Pulang pergi dari rumah ke kampus naik kendaraan umum, berhemat uang bulanan, bolak-balik ke tukang fotokopian, nangis di perpustakaan, dapet kelompok yang semuanya aku kerjain sendiri, kena masalah sama dosen, adu argumentasi organisasi, gabisa pulang ke rumah karena telat jadwal bus, kerja buat bayar kebutuhan, capek banget. Semuanya terbayarkan. Mungkin aja ini hadiah karena gapernah ngeluh dan berpikiran buruk sama Tuhan.
”Sama-sama cantik, mau makan siang apa kita, ada film bagus nih nanti malem, udah dipesenin ya tiketnya" Hahaha lucu banget manusia satu ini "Kamu masih kuat nongkrong sampe malem kan?" Pria tinggi ini memang hobi menggodaku. "Yaelah sidang doang mah gaada apa-apanya, nongkrong sampe pagi juga gas" kami tertawa bersama lalu berfoto di depan gedung kampus.
11 Juli 2023
Fira Alraen

Komentar