Barangkali


Aku pernah bertahan pada satu hati yang ternyata mematahkan segala angan dan ingin. Menjelma dermaga dari kapal-kapal yang seumpama kamu dan tetiba berdebu ketika tujuanmu bukan lagi kapada aku. Hingga rela menutup rapat hati agar tidak ada yang menyelinap selama menunggu kamu kembali.

Barangkali, tubuh puisi memanglah tidak tahu diri. Dirinya terus menuliskan kamu sebagai tokoh yang amat kucinta dan mencintaku. Saban pagi, kopi yang kucumbu gelasnya pun mengingatkan aku pada pahitnya hidup yang dijalani semenjak langkah kakimu perlahan meninggalkan pekarangan hati.

Barangkali, kamu yang merupakan kompas saat aku terbawa arus di tengah lautan kini mati. Membuatku buta akan arah pulang kepada tenang. Menyelinap sepucuk gamang, membakar perapian cemburu melihat genggammu bukan lagi milik aku.

Komentar

Anonim mengatakan…
maaf

Postingan populer dari blog ini

Perjudian

My Mom

Apakah?