Pulang (Part 2)


Disiang yang cerah ini jalanan terasa sunyi, pemandangan indah yang disinari langit putih biru tidak ada artinya. Mobil-mobil lain yang melaju sangat cepat untuk mencapai entah kemana, sementara aku terduduk memegang setir mobil dengan perasaan tegang, tangan ku basah oleh keringat. Aku ingin waktu berjalan sangat lambat. Kulihat di kaca mobil terduduk di kursi belakang seorang perempuan yang sedang senyum memandangi pemandangan jalan itu. Ia menggunakan baju putih dan celana biru cerah, persis seperti langit putih biru yang ia pandangi. 

"Sial ia sangat cantik hari ini!"
Di matanya terlihat penantian panjang yang sangat ia nantikan.
"Kesalahan ku." Ucapku dalam hati

Anet, namanya. Ia bagaikan bunga mekar di tanah yang tandus. Aku ada disaat ia senang membacakan buku yang sehabis ia baca, dan aku juga ada di saat ia menangis mengetahui semua luka berasal dari keluarganya. 

Aku sangat suka padanya dan pada saat itu aku berjanji pada diri sendiri untuk menjaga agar bunga indah itu tidak layu oleh tanah yang tandus. 

Aku terlalu naif, dengan Anet yang selalu menemani hampir setiap hariku, ku pikir perasaan kita sama, dan ternyata aku salah! Ia di lamar oleh pria lain. 

Mungkin aku cukup pengecut untuk menyatakannya dan terlalu percaya diri untuk menjaganya. Mencoba berdamai dengan diriku sendiri dengan mengantarkan sahabat favoritku untuk menemui seorang pria yang akan menjaganya sampai akhir nanti. 

Betapa beruntungnya pria itu, Anet berlari sangat cepat di depan, aku jauh di belakang melihat punggung perempuan itu, sial! Aku merasa menyesal tidak menyatakan perasaanku sedari awal. Ia tampak manis walau dilihat dari belakang. 

Di antara keramaian orang aku sibuk mencari Anet. Mata ku tertuju dengan rambut kuncir indah itu yang sudah diam menatap pria itu. 

Anet memeluk pria itu dengan kencang dan perlahan mulai meneteskan air mata. aku memasang senyum terbaik ku, dan segera menghilang di antara kerumunan. 

Sore itu langit berwarna ungu jingga hampir gelap, matahari terasa hangat walau sejenak, angin menyejukan berganti mendinginkan. Ku bakar sebatang rokok dengan harapan dapat menemaniku di rooftop parkiran yang sunyi ini. Melihat sebuah pesawat yang tengah pergi aku jadi teringat sebuah buku yang Anet pernah bacakan;

"Manusia datang dan pergi beberapa dari mereka tidak meninggalkan apa-apa, sedang beberapa lainnya meninggalkan jejak yang tidak akan pernah hilang."

Langit gelap dan hembusan asap terakhir rokok aku berkata "Anet, aku akan tetap bahagia tanpamu."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjudian

My Mom

Apakah?