Bertahan


Dia bersandar disana. Kami meluruskan kaki di bawah meja coklat ukuran 2 meter. Meneguk minum masing-masing, dengan cekatan aku membukakan bungkus cemilan untuk menemani malam ini bersama.

"Gimana hari ini?" katanya, hati-hati kepadaku. Dia sadar wajahku sedang lesu.

Aku sambil mengunyah cemilan gurih ini. "Lumayan, lumayan capek." Dia tertawa "Sama." Kata dia.

Tawanya menenangkan, membuatku ikut tersenyum. Tapi matanya menjelaskan, jelas Dia jauh lebih lelah. "Cuma kurang tidur aja, jadi matanya lelah." Dia berusaha menenangkan agar aku tidak khawatir.

"Istirahat, Aku gamau kamu sakit."

"Aku ga akan sakit Raa."
"Ini cuma hujan gerimis. Kemarin aku melewati badai, dan baik-baik saja."

Aku tersenyum, lagi. "Oke, ini cuma gerimis kecil."

"Aku selalu self reward untuk hidup aku. Walaupun hidup aku gini-gini aja, gaada pencapaian apa-apa, gaada yang bisa dibanggain, gaada hal baru. Tapi aku sering aja self reward, meski sebenernya aku ga berhak dapetin itu."

"Bodoh, bodoh ya kamu. Dengan keadaan kamu yang udah bertahan sampai sekarang aja itu emang udah semestinya kamu kasih reward. Kamu berhak atas itu."

Dia menatap dalam mataku. "Terima kasih ya udah bertahan." Aku melanjutkan bicaraku. Dia tersenyum.

Malam yang indah untuk menghapus penat. 


20 Oktober 2023
Fira





Komentar

Anonim mengatakan…
Begitukah gambaran kehidupan yang kau harapkan?

Postingan populer dari blog ini

Perjudian

My Mom

Apakah?