My Mom

“Kalau sudah besar, Putri mau jadi apa?”
Mami mencolek pipi Putri dengan gemas.
“Hmm… mau jadi Mami!” jawab Putri antusias.
Tawa kecil pecah di antara mereka. Hangat. Sederhana.

---

“Mami sama Papi kenapa suka berantem sih?"
“Kok Papi nggak pulang terus sih?”
“Mami jangan lupa minum obat ya…”
Pertanyaan-pertanyaan itu dulu keluar begitu saja. Lugu. Tanpa tahu bahwa jawaban-jawabannya terlalu berat untuk seorang anak kecil.

---

Waktu kecil, aku sering pulang sekolah dan melihat mobil polisi terparkir di depan rumah.
“Putri, kenapa sih rumah kamu banyak polisi terus?” tanya teman-temanku.
Aku menjawab santai, seolah itu hal biasa.
“Oh, soalnya nenek aku temenan sama polisi.”

Padahal…

Tenggorokanku terasa kering saat itu. Aku menelan ludah, bingung, takut, perasaan yang bahkan belum bisa aku namai. Dadaku sesak, seperti ada sesuatu yang ingin keluar tapi tertahan.

Tangan Mami dikalungi besi dingin.
Dikawal masuk ke dalam mobil.

Aku lupa… apakah Mami sempat menatapku untuk terakhir kali. Atau mengucapkan sesuatu. Atau mungkin… tidak sama sekali.

Sekarang, aku hanya bisa mengunjunginya di tempat terakhirnya.

Dengan jarak.

Dengan batas.

Dengan waktu yang selalu terasa kurang.

---

“Putri.”
Aku menoleh.
Refleks.
Tapi bukan aku yang dipanggil.
Seorang anak kecil berlari ke arah suara itu.
Dipeluk oleh Papi.

Aku terpaku.

Anak Papi…
dari istri yang lain.

Namanya sama.
Putri.

Sekarang, aku hanya ingin tahu…
di mana letak rumah yang sebenarnya.
Because apparently, the internet has more pictures of her than me.

-Fira, 19 Maret 2026-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjudian

Apakah?