Perjudian
"Yaudahaudah, kan aku cuma bilang kalau aku gamau kalau aku ada masalah kamu ikut campur. Gausah!" Suaranya barusan memenggal kalimatku.
Dengan emosi yang sama. "Iya aku paham, siapa juga yang ikut campur? Emang selama ini aku ikut campur? Tapi apapun yang terjadi aku tetep ada di sisi atau pihak kamu, mau kamu salah atau bener."
Seperti biasa, "Ngapain? Nggak penting juga kamu di mana." Perdebatan selalu terjadi ketika sama-sama menjelaskan tanpa mendengarkan.
"Oke!"
"Marah kan, Kamu?" Dia menambah kecepatan mengemudinya. "Gini nih, aku males kalo ngobrol sama kamu, ujung-ujungnya diem terus marah."
Dia membanting stirnya, menurunkannya di pinggir trotoar.
Her POV
"Berjudi dengan Tuhan"
Ku cuci darah dalam pembalut ini, menyikat celana dalam kotor sambil sesekali menyeka pipi akibat air mata.
Setiap kalimat aku mencintaimu ternyata hanya puisi yang tidak akan jadi selamanya.
Setiap ingin yang ternyata hanya terletak di angan ku saja.
Setiap aamiin yang aku paksa pada Tuhan untukmu, adalah perjudian paling bodoh yang aku lakukan pada-Nya.
Mungkin aku terlalu awal untuk menentukan bahwa dia orangnya, walaupun itu adalah kesempatan terakhir yang aku berikan pada hidup ini.
Setelah seluruh hati dan tubuh kau sentuh, aku memang tidak lebih dari kotoran yang di buang sembarang trotoar jalan.
Tidak akan ada kata terima kasih atau maaf, aku memilih jalan neraka.
Biarkan cinta ini baka, tumbuh dalam layu.
His POV
Saya mencintaimu dengan sepenuh hati, selayaknya dan sejujurnya. Terlihat tidak banyak dan tidak lebih memang. Tapi jika kau coba telaah lebih dalam, menggunakan mata dan hati kecilmu, kelak akan kau temui sekumpulan rasa berbentuk rindu akan harap temu dan risau taktala hilang kabar dirimu.
Saya menyayangimu dengan sepenuh hati, selayaknya dan sejujurnya. Bahkan jika diri ini yang menjadi taruhan dalam perjudian-Nya, tak apa. Meskipun kalah nantinya, setidaknya, saya telah mencintaimu, seadanya-adanya dan menerimamu sekurang-kurangnya.
Lepas malam dengan tatapan bintang sedikit tidak suka, melihat bulan lebih terang, menerangi bentala saat sang surya enggan terbit, padahal disamping demikian, ia hanya takut tersaingi dengan cahaya wajahmu dengan senyuman yang sempurna bak mahabaratha dengan sang arjuna.
Pada intinya puan, semoga selalu terbang, dengan atau tanpa sayap, sendirian atau dengan orang lain. Semoga perasaanku akan tetap seperti bait-bait tulisanku, ya. Jangan lupa, kita abadi, yang fana itu, waktu.
Dia membawa stirnya, tak tau ntah arah mana dia akan berhenti. Tidak tau.
---
:Fira, Sayyid, 22-23 Mei 2025
Komentar