Hai! Selamat datang di tulisan sederhana ciptaanku. Aku tidak berharap kamu untuk suka tapi kalau kamu mau baca sampai akhir, aku akan senang sekali. Terima kasih dan selamat menikmati!
Ternyata
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
-
Aku menyukaimu, dan ternyata kau pernah menyukaiku. Lagi-lagi masalah yang sama, apalagi kalau bukan waktu?
"Yaudahaudah, kan aku cuma bilang kalau aku gamau kalau aku ada masalah kamu ikut campur. Gausah!" Suaranya barusan memenggal kalimatku. Dengan emosi yang sama. "Iya aku paham, siapa juga yang ikut campur? Emang selama ini aku ikut campur? Tapi apapun yang terjadi aku tetep ada di sisi atau pihak kamu, mau kamu salah atau bener." Seperti biasa, "Ngapain? Nggak penting juga kamu di mana." Perdebatan selalu terjadi ketika sama-sama menjelaskan tanpa mendengarkan. "Oke!" "Marah kan, Kamu?" Dia menambah kecepatan mengemudinya. "Gini nih, aku males kalo ngobrol sama kamu, ujung-ujungnya diem terus marah." Dia membanting stirnya, menurunkannya di pinggir trotoar. Her POV "Berjudi dengan Tuhan" Ku cuci darah dalam pembalut ini, menyikat celana dalam kotor sambil sesekali menyeka pipi akibat air mata. Setiap kalimat aku mencintaimu ternyata hanya puisi yang tidak akan jadi selamanya. Setiap ingin yang ternyata hany...
“Kalau sudah besar, Putri mau jadi apa?” Mami mencolek pipi Putri dengan gemas. “Hmm… mau jadi Mami!” jawab Putri antusias. Tawa kecil pecah di antara mereka. Hangat. Sederhana. --- “Mami sama Papi kenapa suka berantem sih?" “Kok Papi nggak pulang terus sih?” “Mami jangan lupa minum obat ya…” Pertanyaan-pertanyaan itu dulu keluar begitu saja. Lugu. Tanpa tahu bahwa jawaban-jawabannya terlalu berat untuk seorang anak kecil. --- Waktu kecil, aku sering pulang sekolah dan melihat mobil polisi terparkir di depan rumah. “Putri, kenapa sih rumah kamu banyak polisi terus?” tanya teman-temanku. Aku menjawab santai, seolah itu hal biasa. “Oh, soalnya nenek aku temenan sama polisi.” Padahal… Tenggorokanku terasa kering saat itu. Aku menelan ludah, bingung, takut, perasaan yang bahkan belum bisa aku namai. Dadaku sesak, seperti ada sesuatu yang ingin keluar tapi tertahan. Tangan Mami dikalungi besi dingin. Dikawal masuk ke dalam mobil. Aku lupa… apakah Mami sempat menatapku untuk terakhir ka...
aku tidak tau apakah puisi-puisimu benar adanya? ingin menetap, berteduh, mencari harap bersama? aku tidak tau, mana yang lebih besar, cintamu atau sesalmu? aku hanya ingin ditemani sembari sesak menuju lega sembari lebat menuju reda sembari sakit menuju sembuh aku ingin ditemani barangkali aroma tubuhmu buatku sembuh barangkali usapan kulitmu buatku teduh barangkali bencimu jadi pudar bila kau menetap? aku ingin kau menetap dan ditemani, tapi lupa, bahwa kau tak ingin aku, lagi -fira, 28 Maret 2026
Komentar